Mak Yong: Drama, Tari, dan Musik yang Menyulam Jiwa Melayu di Kepulauan Riau

Mak Dara bersama penari di kelompok Joget Dangkong yang ia pimpin di sela pementasan yang akan disiarkan streaming di media sosial dikelola Dinas Kebudayaan Kota Tanjungpinang.(Diskominfo Kepri)

Inaranews.id,TANJUNGPINANG-Denting rebab mengalun lembut di pelataran Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang. Malam perlahan turun, sementara para penonton mulai memadati area pertunjukan. Lampu panggung menyala hangat, menyoroti para pemain yang mengenakan busana tradisional Melayu berwarna cerah. Di tengah panggung, seorang penari melangkah perlahan, gerakannya halus mengikuti irama musik yang mengalir tenang.

Begitulah suasana ketika seni pertunjukan Mak Yong kembali dipentaskan di Kepulauan Riau. Di tengah arus modernisasi yang begitu cepat, kesenian tradisional ini masih menemukan tempat di hati masyarakat. Mak Yong bukan sekadar hiburan panggung. Ia adalah perpaduan antara teater, tari, musik, nyanyian, serta cerita rakyat yang telah hidup selama ratusan tahun dalam tradisi budaya Melayu.

Pementasan Mak Yong digelar oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) IV Tanjungpinang dalam rangkaian kegiatan bertajuk “Mak Yong Warisan Dunia”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 22 hingga 24 September, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan salah satu warisan budaya penting di Kepulauan Riau.

Sejak dahulu, Mak Yong dikenal sebagai seni pertunjukan yang kaya makna. Setiap lakon yang dibawakan biasanya menceritakan kisah kerajaan, perjalanan seorang pahlawan, hingga legenda yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Di balik alur cerita yang menarik, terdapat pesan moral, nilai kepemimpinan, serta pandangan hidup masyarakat Melayu yang disampaikan melalui dialog dan nyanyian para pemain.

Tidak seperti teater modern yang sepenuhnya bergantung pada naskah tertulis, Mak Yong juga memberi ruang improvisasi bagi para pemain. Dialog sering kali berkembang secara spontan di atas panggung, menciptakan interaksi yang hidup antara pemain dan penonton. Unsur inilah yang membuat setiap pementasan Mak Yong terasa unik dan berbeda.

Staf Ahli Pemerintahan Kota Tanjungpinang, Marzul Hendri, mengatakan bahwa masyarakat Melayu Kepulauan Riau patut berbangga karena Mak Yong telah diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda dunia.

“Kita sebagai masyarakat Melayu Kepulauan Riau harus bangga dengan adanya tradisi Mak Yong di daerah kita yang merupakan Warisan Budaya Dunia tak Benda. Pementasan Mak Yong bisa memberi kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dan mengapresiasi seni teater tradisional, serta tetap berkembang sambil mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah menjadi warisan bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan panggung Mak Yong tidak hanya penting sebagai hiburan budaya, tetapi juga sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda. Melalui pertunjukan ini, masyarakat dapat belajar tentang sejarah, nilai adat, serta filosofi kehidupan yang diwariskan oleh nenek moyang.

Pementasan Mak Yong tahun ini juga diawali dengan tradisi makan berhidang, sebuah ritual jamuan khas masyarakat Melayu yang sarat dengan nilai kebersamaan. Para tamu duduk bersama mengelilingi satu talam berisi berbagai hidangan, mencerminkan semangat persaudaraan dan kesetaraan dalam budaya Melayu.

Bagi masyarakat setempat, tradisi makan berhidang bukan sekadar acara makan bersama. Di dalamnya terkandung nilai-nilai adat yang mengajarkan etika, kebersamaan, serta rasa saling menghormati.

“Tradisi ini mengajarkan adab makan, mempererat persaudaraan, dan melambangkan identitas budaya serta siklus kehidupan yang harmonis,” kata Marzul.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa budaya tidak berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari tata cara pergaulan hingga nilai-nilai sosial yang diwariskan secara turun-temurun.

Di panggung Mak Yong, setiap unsur pertunjukan memiliki perannya masing-masing. Musik tradisional yang dimainkan dengan rebab, gendang, dan gong mengiringi gerak penari yang anggun. Para pemain melantunkan nyanyian khas yang menjadi bagian penting dalam penyampaian cerita. Sementara dialog para tokoh membawa penonton masuk ke dalam dunia cerita yang penuh warna.

Keunikan lain dari Mak Yong adalah dominasi peran perempuan dalam pertunjukan. Banyak tokoh utama, termasuk raja atau pahlawan, dimainkan oleh perempuan. Hal ini menjadi ciri khas tersendiri yang membedakan Mak Yong dari bentuk teater tradisional lainnya.

Namun perjalanan Mak Yong tidak selalu berjalan mulus. Seiring perubahan zaman, kesenian tradisional ini sempat menghadapi tantangan besar. Modernisasi dan perubahan gaya hidup membuat minat generasi muda terhadap seni tradisional mulai berkurang. Di sisi lain, jumlah pemain yang menguasai teknik dan cerita Mak Yong juga semakin terbatas.

Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk melakukan upaya pelestarian. Pemerintah daerah, lembaga budaya, serta komunitas seni mulai menggelar berbagai kegiatan untuk menghidupkan kembali panggung Mak Yong. Mulai dari festival budaya, pelatihan bagi generasi muda, hingga pementasan rutin yang melibatkan masyarakat luas.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV Tanjungpinang, Jumhari, menegaskan bahwa pelestarian Mak Yong memerlukan dukungan dari banyak pihak.

“Untuk melestarikan dan meningkatkan kesadaran akan warisan budaya ini, kita harus terus memberikan panggung kepada kesenian Mak Yong untuk diperlihatkan kepada masyarakat. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kerja sama budaya dan saling menghargai antara Indonesia dan Malaysia, serta untuk melindungi tradisi ini dari kemunduran akibat perubahan zaman dan minimnya regenerasi,” tegasnya.

Pengakuan Mak Yong sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia oleh UNESCO sejak 2008 juga menjadi momentum penting bagi upaya pelestarian tersebut. Meski awalnya didaftarkan oleh Malaysia, Indonesia memiliki hubungan historis yang kuat dengan tradisi ini, terutama di wilayah Kepulauan Riau yang merupakan bagian dari kawasan budaya Melayu.

Karena itu, berbagai pihak kini mendorong agar Mak Yong dari Kepulauan Riau juga diakui sebagai bagian dari warisan budaya yang sama. Pengakuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama budaya antarnegara sekaligus membuka ruang lebih luas bagi pelestarian seni tradisional ini.

Namun bagi para pelaku budaya, yang terpenting bukan sekadar pengakuan internasional. Lebih dari itu, mereka ingin memastikan bahwa Mak Yong tetap hidup di tengah masyarakat.

Di panggung sederhana, di desa pesisir, atau di halaman gedung adat, pertunjukan Mak Yong terus digelar. Para pemain menari, bernyanyi, dan bercerita seperti yang telah dilakukan oleh para leluhur mereka sejak ratusan tahun lalu.

Setiap gerakan tangan, setiap lantunan lagu, dan setiap dialog yang dilontarkan di atas panggung menjadi pengingat bahwa budaya adalah napas kehidupan sebuah masyarakat. Selama masih ada yang menjaga dan mencintainya, tradisi itu tidak akan pernah benar-benar hilang.

Mak Yong mungkin lahir dari masa lalu, tetapi denyutnya masih terasa hingga hari ini. Dan di Kepulauan Riau, seni pertunjukan itu terus hidup—mengalun bersama musik tradisional, menyatu dengan cerita rakyat, serta mengikat ingatan kolektif masyarakat Melayu yang bangga akan warisan budayanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *