
Inaranews.id, TANJUNGPINANG-Ramadan di Kepulauan Riau tahun ini terasa lebih semarak. Di tengah suasana religius bulan suci, masyarakat disuguhi sebuah kegiatan yang tidak hanya menghadirkan bazar dan hiburan, tetapi juga layanan publik, edukasi ekonomi syariah, hingga panggung budaya Melayu. Kegiatan itu bernama Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) 2026.
Event tahunan yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah dalam satu kawasan kegiatan Ramadan yang terpadu. Tidak sekadar menjadi tempat berburu takjil atau kuliner berbuka, KURMA 2026 juga membawa misi besar: memperkuat ekonomi umat sekaligus memperkenalkan budaya Melayu kepada generasi muda.
Di kawasan kegiatan, pengunjung dapat menemukan beragam stan UMKM yang menawarkan produk lokal, mulai dari makanan khas hingga kerajinan tangan. Suasana Ramadan terasa semakin hidup dengan hadirnya bazar yang dipenuhi pengunjung menjelang waktu berbuka.
Namun yang membuat KURMA 2026 berbeda adalah hadirnya layanan publik langsung di tengah keramaian masyarakat. Berbagai instansi membuka pelayanan di lokasi acara, mulai dari layanan kesehatan, BPJS, konsultasi haji, hingga pengurusan administrasi lainnya. Dengan konsep ini, masyarakat tidak perlu datang ke kantor layanan karena berbagai kebutuhan bisa diakses di satu tempat.
Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan edukasi keuangan syariah yang melibatkan berbagai lembaga perbankan dan otoritas keuangan. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak memahami pentingnya literasi keuangan sekaligus mengenal layanan perbankan berbasis syariah.
Tak hanya itu, nilai sosial juga menjadi bagian penting dari KURMA 2026. Program pasar murah, pembagian takjil, serta berbagai kegiatan sosial dihadirkan untuk membantu masyarakat selama Ramadan.
Di sisi lain, panggung budaya menjadi daya tarik tersendiri. Beragam pertunjukan seni Melayu, lomba berbalas pantun, hingga kompetisi religi seperti lomba adzan dan sholawat turut memeriahkan suasana. Tradisi dan kearifan lokal pun kembali hidup di tengah masyarakat.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menegaskan bahwa KURMA tidak hanya sekadar kegiatan seremonial Ramadan, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih luas.
“KURMA 2026 harus menjadi penggerak ekonomi umat sekaligus ruang pelayanan bagi masyarakat dan panggung untuk menampilkan budaya Melayu,” ujarnya.
Dengan konsep yang memadukan ekonomi, pelayanan publik, nilai religi, dan budaya, KURMA 2026 diharapkan mampu menjadi agenda Ramadan yang tidak hanya meriah, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat Kepulauan Riau.
Ramadan pun tak hanya menjadi waktu untuk beribadah, tetapi juga momentum untuk memperkuat kebersamaan, menggerakkan ekonomi, dan merawat warisan budaya Melayu.




