
LINGGA, Inaranews.id– Keluarga Suku Laut di Pulau Lipan, Desa Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga, mulai belajar mengelola keuangan rumah tangga secara lebih teratur dan menggunakan layanan keuangan digital dengan aman.
Kemampuan tersebut dikembangkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang berlangsung sejak April dan direncanakan berlanjut hingga November 2026.
Program bertajuk “Penguatan Literasi Keuangan dan Kemandirian Ekonomi Keluarga Suku Laut di Era Digital” itu diketuai Dr. Eki Darmawan, S.Sos., M.I.P. Anggota tim terdiri atas Ilham Yuri Nanda, S.IP., M.Sos. dan Putri Yuliandari, S.Ak., M.Acc., serta melibatkamahasiswa UMRAH.
Ketua Tim PKM UMRAH, Eki Darmawan, mengatakan pendampingan dilakukan untuk membantu masyarakat mengatur pendapatan yang tidak selalu tetap. Sebagian besar warga Pulau Lipan bekerja sebagai nelayan sehingga penghasilan rumah tangga sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan hasil tangkapan.
“Pendapatan keluarga nelayan tidak selalu sama setiap hari. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran, menentukan kebutuhan utama, serta menyisihkan uang ketika memperoleh pendapatan,” katanya.
Tim menerapkan pendekatan partisipatif dan pendampingan dari rumah ke rumah. Metode tersebut dipilih agar materi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.
Materi pendampingan meliputi penyusunan anggaran rumah tangga, pencatatan pemasukan dan pengeluaran sederhana, membedakan kebutuhan dengan keinginan, membangun kebiasaan menabung, serta mengelola utang secara bijak.
Masyarakat juga mendapat pengenalan mengenai pemanfaatan telepon pintar untuk kegiatan produktif. Materi tersebut mencakup penggunaan layanan perbankan seluler, dompet digital dan QRIS, serta cara menjaga keamanan data saat melakukan transaksi.
“Telepon pintar tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi atau berbelanja. Perangkat tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mencatat keuangan, menerima pembayaran, mencari informasi usaha, dan mendukung kegiatan ekonomi keluarga,” ujar Eki.
Dalam evaluasi tahap awal, tim melibatkan 20 responden dari keluarga Suku Laut. Sebanyak 65 persen responden bekerja sebagai nelayan, 30 persen sebagai pengelola rumah tangga, dan lima persen bekerja sebagai pengupas udang.
Hasil pemetaan menunjukkan 80 persen responden memiliki akses terhadap telepon pintar, baik milik sendiri maupun menggunakan perangkat milik anggota keluarga. Sebanyak 75 persen pernah menggunakan setidaknya satu layanan digital.
Namun, penggunaan perangkat digital masih lebih banyak untuk belanja daring.
Sebanyak 70 persen responden pernah berbelanja secara daring, sedangkan penggunaan perbankan seluler, dompet digital, atau QRIS baru mencapai 35 persen.
Hasil pengukuran juga menunjukkan indeks literasi keuangan peserta berada pada angka 45,75 dari skala 100 atau termasuk kategori sedang.
Kemampuan mengambil keputusan keuangan tercatat cukup baik, tetapi kebiasaan mencatat keuangan, menabung, dan menggunakan layanan keuangan digital masih perlu diperkuat.
Anggota Tim PKM UMRAH dari bidang akuntansi, Putri Yuliandari, mengatakan materi pencatatan dibuat dalam bentuk yang sederhana agar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami tidak menggunakan format pencatatan yang rumit. Masyarakat cukup menuliskan uang yang masuk, kebutuhan pokok yang dibayarkan, jumlah tabungan, pembayaran utang, dan sisa uang yang masih tersedia,” katanya.
Sejumlah perubahan awal mulai terlihat selama proses pendampingan. Peserta mulai memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Beberapa keluarga juga mulai mencoba mencatat pemasukan serta pengeluaran rumah tangga.
Meski demikian, kebiasaan menabung belum dapat diterapkan secara konsisten karena pendapatan masyarakat masih berfluktuasi. Penggunaan telepon pintar untuk kegiatan produktif juga masih berada pada tahap awal.
Selain pengelolaan keuangan, tim memberikan perhatian terhadap keamanan transaksi digital. Masyarakat diingatkan agar tidak memberikan nomor identifikasi pribadi atau PIN, kode kata sandi sekali pakai atau OTP, dan informasi rekening kepada orang lain.
Peserta juga diperkenalkan dengan ciri-ciri pesan penipuan, tautan mencurigakan, serta tawaran pinjaman daring yang tidak jelas. Pengetahuan tersebut diperlukan seiring meningkatnya penggunaan layanan digital di tengah masyarakat pesisir.
Tim PKM UMRAH akan melanjutkan pendampingan dan pemantauan hingga program berakhir. Kegiatan lanjutan diarahkan untuk memperkuat kebiasaan mencatat, mendorong tabungan dalam jumlah yang realistis, serta meningkatkan penggunaan layanan keuangan digital secara aman.
“Kami berharap pendampingan ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Tujuan utamanya adalah membangun kebiasaan yang dapat membantu keluarga mengelola pendapatan, mengurangi risiko masalah keuangan, dan meningkatkan kemandirian ekonomi,” ujar Eki.
Program tersebut didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UMRAH serta dilaksanakan melalui kerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Selayar, Pemerintah Desa Penuba, dan masyarakat Suku Laut di Pulau Lipan.(rilis)




